PUAP JOMBANG

PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN KABUPATEN JOMBANG

  • Selamat datang di website PUAP kabupaten Jombang
Showing posts with label teknologi terapan. Show all posts
Showing posts with label teknologi terapan. Show all posts

Tanaman sayuran merupakan komoditas yang berpotensi sangat cepat mengalami penurunan kualitas dan tidak dapat disimpan terlalu lama. Oleh karena itu produk sayuran perlu diolah menjadi suatu produk pangan yang bermutu tinggi dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Dr. Ir. Ridwan Rachmat, M.Ag., Ketua Kelompok Peneliti Teknologi Penanganan Hasil Pertanian, Balai Besar Pasca Panen Pertanian Cimanggu Bogor, mengatakan persentase potensi penurunan kualitas dan kuantitas sayuran di Indonesia bisa mencapai sekitar 25-40% dari total panen. “Hal tersebut disebabkan komoditas sayuran secara umum terdiri 81-96% kadar air dan mudah rusak diakibatkan oleh proses fisiologis, kimiawi atau mikrobiologis,” ujarnya.

Dikatakannya, salah satu cara memperpanjang daya simpan sayur adalah dengan pengeringan. Sejak tahun 2003, Ridwan telah melakukan penelitian mengenai pengeringan sayuran dengan menggunakan teknologi radiasi. Teknik pengeringan yang digunakan adalah Far Infrared Radiation (FIR). Sinar infrared pada teknologi ini memiliki panjang gelombang antara 25-1.000 μm.
Pengeringan sayuran ala FIR ini, imbuh Ridwan, memiliki banyak keunggulan, di antaranya warna sayur yang dikeringkan tidak mengalami perubahan warna yang signifikan, aroma sayuran masih kuat. “Hal ini karena sinar infra merah yang digunakan hanya memutus molekul air tanpa merusak struktur molekul bahan utamanya,” jelasnya.

Disekeliling kita bahan baku pupuk organik yang berasal dari sampah rumah tangga ternyata cukup besar. Sumber terbanyak berasal dari lokasi rumah tangga dan pasar tradisional.  Untuk sampah pasar sebagian besar komposisinya (95%) berupa sampah organik, sedang sampah yang berasal dari rumah tangga minimal terdiri sampah organic (75%) dan sisanya anorganik.  Untuk memanfaatkan sampah rumah tangga tsb, BPTP Jawa Timur melaksanakan Pengkajian Produksi dan Pemanfaatan Limbah Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan menggunakan berbagai macam dekomposer. Dekomposer yang dicobakan yaitu  Promi, SuperDegra, dan EM-4 dan dilakukan juga analisis kimia Kimia Bahan Organik dari Sampah Rumah Tangga dengan Menggunakan Berbagai Macam dekomposer tersebut (Tabel 1).

 

Saat ini dekomposer produksi pabrikan yang biasa beredar di pasaran dan paling mudah ditemui antara lain EM-4, superdegra, stardec, probion, dll. Sebagai bahan produksi pabrikan yang telah memiliki nilai komersial tinggi, tentu saja dekomposer ini memiliki harga yang cukup mahal, dan antara satu produk dengan produk lain memiliki harga yang berbeda.

Menurut Setiasih, S.Pt, MP staf peneliti BPTP Jawa Timur, jika membeli dekomposer dirasa mahal petani dapat membuatnya sendiri. Caranya dengan memanfaatkan bahan yang ada di lingkungan sekitar kita, termasuk menggunakan limbah rumah tangga misalnya sayur-sayuran atau buah-buahan yang tidak terpakai.  Selain itu juga bisa menggunakan bagian tanaman yang ada di lingkungan sekitar kita misalnya bonggol pisang dan rebung bambu. Hasil tersebut sering disebut dengan MOL atau mikroorganisme local.
Menurut Setiasih, salah satu contoh pembuatan MOL adalah dari bonggol pisang. Bahan-bahan yang disiapkan antara lain bonggol pisang 5 kg, gula merah 1 kg dan air cucian beras 10 liter. Sedang alat yang digunakan antara lain; drum plastik 200 liter, selang dan botol air. Cara pembuatannya sangat mudah, bonggol pisang dihaluskan dan dimasukkan ke dalam drum. Kemudian dimasukkan air cucian beras dan gula merah yang sudah dilarutkan. Drum ditutup rapat namun diberi lubang pernafasan satu arah, yaitu dengan cara melubangi tutup drum dan diberi selang dimana ujung selang dimasukkan ke dalam botol yang berisi air, sehingga gas yang ada di dalam drum dapat keluar namun udara dari luar tidak dapat masuk ke dalam drum. Selanjutnya diperam selama dua minggu.
“Cara penggunaanya, campuran 1 liter cairan dengan 5 liter air dan ditambah gula merah 1 ons, dicampur sampai rata, disiramkan pada bahan organik yang akan dikomposkan, kemudian peram selama 1 bulan”, ungkapnya.
“Dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita, berarti kita dapat menghemat biaya sekaligus meningkatkan nilai tambah dari barang yang sudah tidak terpakai”. imbuh wanita asli Jombang ini.
sumber: http://jatim.litbang.deptan.go.id

    Komentar Pengunjung


    ShoutMix chat widget

    Followers

    Apakah anda tahu tentang PUAP di kabupaten anda?